|
2010-01-05 15:40:02 Proyek Residensial Bangkit Pascakrisis
JAKARTA – Tahun 2010 ini akan menjadi era kebangkitan bagi proyek-proyek residensial atau perumahan (landed house). Setelah sempat limbung terimbas krisis global hingga kuartal ketiga tahun lalu, permintaan hunian residensial cenderung membaik sejak kuartal terakhir 2009. Tak heran bila sejumlah pengembang mulai bersiap-siap meluncurkan proyek baru. “Penjualan rumah akan meningkat. Kalau pada 2009 transaksinya hanya sekitar 30 triliun rupiah, tahun ini kemungkinan bisa mencapai 34 triliun rupiah,” ungkap pengamat properti, Panangian Simanungkalit, belum lama ini. Prospek penjualan perumahan dengan harga di bawah 300 juta rupiah per unit di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) akan mencapai angka 150 ribu unit per tahun hingga sepuluh tahun ke depan. Sementara penjualan perumahan dengan harga sekitar 300 juta rupiah per unit akan mencapai 60 ribu unit per tahun. Pertumbuhan penduduk dan pulihnya daya beli masyarakat menjadi penopang pertumbuhan bisnis properti residensial. Di Jabodetabek, misalnya, pertumbuhan penduduknya mencapai 8,1 juta jiwa sepanjang 2007-2020. Untuk menampung pertambahan penduduk sebanyak 8,1 juta jiwa itu, dibutuhkan rumah setidaknya 2,1 juta unit. “Rumah menengah dengan harga sekitar 300 jutaan rupiah akan bangkit tahun ini. Pengembang yang selama ini mulai meninggalkan segmen ini juga akan kembali terjun masuk membangun proyek kelas menengah, apalagi kalau bunga KPR turun sampai di bawah 10 persen,” papar dia. CEO PT Sarana Multiland Matius Jusuf mengatakan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) memang sangat memengaruhi perencanaan pemasaran proyek residensial menengah. Pasalnya, hampir sekitar 90 persen konsumen rumah membeli melalui kredit bank. Karena itu, dia mendorong perbankan untuk tidak lagi berlindung di balik prinsip kehati-hatian dan mengambil margin terlalu besar, mengingat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) juga sudah turun di level 6,5 persen. “Pengembang tentu berharap perbankan menerapkan bunga KPR maksimal hanya 4 persen dari bunga acuan BI sehingga minat konsumen membeli rumah kembali meningkat,” kata dia. Ketua DPD Realestat Indonesia (REI) Khusus Batam Mulya Pamadi menambahkan, pasar properti diperkirakan bakal positif seiring membaiknya kondisi ekonomi makro. Apalagi perbankan sudah tak pelit mengucurkan kredit, baik bagi pengembang (kredit konstruksi) maupun konsumen (kredit pemilikan rumah/KPR). Lebih-lebih, suku bunga kredit juga kompetitif. “Kalau dulu suku bunga bank mencapai 14-15 persen, saat ini dan tahun depan saya perkirakan sudah mencapai 11-12 persen, dan itu sudah diberlakukan oleh beberapa bank,” kata Mulya Pamadi, di Batam, baru-baru ini. Potensi Pasar Pertumbuhan penjualan produk properti, khususnya perumahan, juga bakal terjadi di Batam, Kepulauan Riau. Potensi pasar perumahan di Batam pada tahun ini diperkirakan mencapai 20 ribu unit rumah, sedangkan jumlah unit yang dibangun hanya sekitar 10 ribu–15 ribu unit rumah. Kondisi tersebut, menurut Mulya, bakal membuat harga properti di daerah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Singapura itu terkerek naik. Ferra MA, Direktur PT Era Imperial, perusahaan agen properti di Batam, mengatakan harga properti bakal naik 20 persen tahun ini. Selain tidak seimbangnya permintaan dengan produk yang tersedia, lokasi Batam yang dekat dengan Singapura dan Malaysia menjadi daya tarik tersendiri. Faktor lainnya adalah status Batam yang sudah ditetapkan sebagai Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas atau FTZ yang akan memicu lonjakan permintaan properti dari orang asing karena akan banyak perusahaan asing yang beroperasi di Batam. Ferra memprediksi perumahan dengan harga 100 juta sampai 500 juta rupiah akan banyak diminati, sementara rumah dengan harga di atas 500 juta rupiah akan banyak dibeli oleh konsumen asing, khususnya para pekerja asing yang berusaha di Batam. (Sumber:Koran Jakarta) |
BERITA
DownLoad |



