|
2010-06-18 17:34:58 Pengembang Berharap Pasokan Listrik
BALIKPAPAN - Krisis listrik yang terjadi di Balikpapan, berdampak serius bagi para pengembang. Krisis berkepanjangan itu sangat mempengaruhi pemasaran kompleks perumahan yang dibangun pengembang. Rumah-rumah yang dibangun pengembang, banyak yang mangkrak, tanpa ada peminat, karena belum dilengkapi dengan fasilitas listrik. “Hampir semua pengembang yang keluhkan listrik,” ungkap Sekretaris Real Estate Indonesia (REI) Balikpapan, Adni Sangkuru, di ruang kerjanya, baru-baru ini. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan listrik tersebut, terdapat beberapa pengembang yang mengupayakan pasokan listrik tanpa mengandalkan PLN. Mereka merogoh kocek membeli mesin generator set (genset), untuk mengalirkan listrik ke rumah-rumah yang dipasarkannya. Namun, rumah-rumah yang mendapat pasokan listrik tersebut, juga dipatok dengan harga yang lebih tinggi, dari pasaran perumahan yang masih menunggu pasokan listrik dari PLN. “Untuk mengatasinya, ada pengembang yang mengelola listrik sendiri, sambil menunggu masuknya listrik dari PLN, tentu saja dengan harga yang lebih mahal,” terangnya. Namun pihaknya tidak ingin terus mengandalkan pasokan listrik yang dikelola pengembang sendiri, mengingat besarnya biaya pengelolaan mesin, serta oprasional penggunaan mesin, yang dikelola pengembang. Untuk itu, pihaknya terus berupaya agar PLN bisa segera memberikan pasokan listrik yang diminta pengembang, agar para pengembang bisa lebih mudah memasarkan rumah yang mereka bangun. “PLN dan REI, akan terus berkoordinasi, agar pasokan listrik yang diajukan bisa segera dikabulkan,” ungkapnya. Diakuinya, bahwa PLN bukannya tidak ingin melayani pasokan listrik yang diajukan pengembang, hanya saja saat ini PLN memang belum bisa memberikan pasokan listrik, seperti yang diajukan pengembang. Namun, salah satu bentuk kepedulian PLN dalah hal pemasaran yang dilakukan pengembang, ialah dengan sarana pemasangan listrik dengan sistem pra bayar. ”Tiga bulan terakhir ini, sudah ada sebagian pengembang yang menggunakan listrik pra bayar dari PLN, tapi sebagian besar masih menunggu listrik sambungan langsung,” aku dia. Lebih lanjut ia memaparkan, pasokan listrik yang dibutuhkan oleh pengembang untuk aliran listrik rumah sederhana, membutuhkan 450 hingga 900 watt. Sedangkan untuk rumah kelas menengah, membutuhkan pasokan listrik 1.300 hingga 2.200 watt, dan untuk rumah mewah, membutuhkan pasokan listrik diatas 2.200 watt. ”Tergantung tipe rumah yang dibangun, mungkin yang paling kecil 450 watt, tapi kalau rumah mewah, bisa sampai di atas 2.200 watt, tinggal dikalikan berapa rumah dalam satu kompleks,” jelasnya. Untuk mempermudah masuknya listrik di perumahan yang dibangun pengembang, piahknya harus menyediakan sarana-prasarana pengaliran listrik, seperti pemasangan tiang listrik, trafo listrik, hingga kabel-kabel berkapasitas besar, untuk menyambungkan aliran listrik ke rumah-rumah yang dibangun pengembang. Penyediaan sarana dan prasarana pengaliran listrik tersebut, merupakan hasil kesepakatan pengembang dengan PLN, jika pengembang tidak inggin menunggu hingga bertahun-tahun jika ingin mendapatkan aliran listrik PLN. ”Kesepakatannya, kita yang berinvestasi di sini, PLN hanya tinggal mengalirkan listriknya saja. Jadi sebenarnya, tergantung pengembangnya juga,” pungkas Andi. (sumber:metrobalikpapan.co.id) |
BERITA
DownLoad |



